
Dalam pesatnya konstruksi pembangunan dan menjulangnya gedung pencakar langit, ada sebuah profesi yang bekerja dalam sunyi, di antara lapisan tanah dan aliran air. Profesi itu adalah Arsitek Lanskap, yang hari ini berada di sebuah persimpangan apakah mereka akan menjadi pahlawan masa depan yang menyelamatkan peradaban, atau justru menjadi saksi bisu dari kepunahan Bumi?
Kita harus jujur mengatakan bahwa Bumi kita sedang megap-megap. Pertumbuhan populasi menuntut pembangunan yang masif berupa pemukiman, apartemen, perkantoran, dan infrastruktur industri yang tak terelakkan. Di sisi lain, setiap kali beton dan aspal dituangkan di atas tanah, kita sebenarnya sedang menutup “pori-pori” bumi. Tanah yang semula menyerap hujan kini menjadi kedap, memaksa air lari liar ke permukaan dan menciptakan banjir.
Di sinilah muncul pemikiran kritis. Apakah solusi terbaik adalah menghentikan pembangunan total? Tentu mustahil. Solusinya adalah ko-eksistensi. Kita perlu membangun, namun dengan cara yang selaras dengan irama alam. Di sinilah Arsitek Lanskap masuk bukan sebagai penghias, melainkan sebagai “tabib” yang mengobati luka pada tanah.
Banyak yang mengira Arsitek Lanskap hanya bertugas memilih jenis pohon, shrubs, atau mengatur letak rumput. Padahal, pada proyek-proyek “mercusuar” dengan luasan hektaran, mereka adalah insinyur ekosistem. Ketika sebuah gedung besar dibangun dan menghilangkan area resapan alami, Arsitek Lanskap merancang sistem pengganti yang canggih namun terlihat alami. beberapa diantaranya:
Melalui teknologi ini, pembangunan yang tinggi dan padat tidak harus berarti kematian bagi lingkungan. Ini adalah upaya manusia untuk “membayar utang” kepada alam atas ruang yang telah kita ambil.
Ada dua skenario yang membuat Arsitek Lanskap berada di persimpangan. Skenario pertama adalah masa depan di mana Arsitek Lanskap menjadi profesi paling krusial. Mereka akan menjadi dirigen utama dalam pembangunan kota-kota baru yang tangguh menghadapi perubahan iklim. Tanpa sentuhan mereka, kota akan menjadi “Urban Heat Island” raksasa yang tidak layak huni.
Skenario kedua adalah jalan menuju kepunahan. Jika arsitek lanskap hanya dijadikan alat “greewashing”—sekadar memberi warna hijau di atas kertas untuk memenuhi regulasi tanpa fungsi ekologis yang nyata—maka profesi ini akan punah bersamaan dengan runtuhnya daya dukung lingkungan kita. Alam tidak bisa ditipu dengan estetika visual semata.
Masa depan kita bergantung pada seberapa berani kita mengintegrasikan alam ke dalam setiap desain beton kita. Arsitek Lanskap bukan lagi sekadar profesi pilihan, mereka adalah kebutuhan mendesak.
Setiap kolam retensi yang dibangun dan setiap taman resapan yang dirancang adalah sebuah pernyataan sikap: bahwa manusia belum menyerah pada takdir kepunahan, dan kita masih percaya bahwa kemajuan peradaban bisa berjalan beriringan dengan lestarinya alam semesta.
Penulis : Ir. Atma Winata Nawawi, ST., M.Ars., IALI.
Anggota Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia Jakarta