MENGGALI “SENSE OF PLACE” DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN TOD JAKARTA

Gagasan TOD MRT Roxy

Pernahkah Anda singgah di sebuah stasiun kereta atau halte transit dan merasa ingin berlama-lama di sana? Mungkin karena deretan kafe kecil yang tertata rapi, trotoar yang lebar dan teduh, atau sekadar suasana nyaman yang membuat langkah kaki terasa lebih ringan saat berjalan. Sebaliknya, ada pula kawasan transit yang membuat kita terburu-buru ingin segera pergi meninggalkan tempat tersebut karena hiruk-pikuk yang semrawut, udara yang panas, dan penataan lingkungan yang tidak bersahabat. Perbedaan nuansa ini sesungguhnya bukan sekadar masalah estetika bangunan perkotaan belaka, melainkan berkaitan sangat erat dengan sebuah konsep yang dikenal sebagai “Sense of Place” atau perasaan memiliki dan keterikatan terhadap suatu ruang. Ketika konsep mendalam ini ditarik ke dalam skala perkotaan modern, khususnya di ibukota Jakarta, kita akan menemukan korelasi yang sangat kuat antara sentuhan emosional sebuah tempat dengan keberhasilan pengembangan Kawasan Berorientasi Transit (KBT) atau yang lebih dikenal dengan istilah Transit-Oriented Development (TOD).

Pengembangan kawasan TOD saat ini menjadi salah satu strategi utama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengurai benang kusut kemacetan yang telah menjadi masalah klasik bertahun-tahun. Pada dasarnya, konsep TOD dirancang untuk mengintegrasikan jaringan transportasi massal dengan kawasan hunian dan area komersial yang sangat ramah terhadap pejalan kaki. Namun, membangun stasiun yang megah dan mendirikan gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya ternyata tidak serta-merta membuat masyarakat dengan sukarela rela meninggalkan kendaraan pribadi mereka di rumah. Di sinilah letak peran penting dari perancangan “Sense of Place”. Sebuah kawasan TOD yang dirancang dengan sukses tidak boleh hanya berfungsi sebagai titik perpindahan mekanis para penumpang dari satu moda transportasi ke moda lainnya, melainkan harus mampu menjadi ruang hidup yang bernyawa. Ketika sebuah kawasan transit memiliki karakter yang kuat, memberikan rasa aman, dan menghadirkan kenyamanan, masyarakat luas akan secara alamiah membangun ikatan emosional dan merasa betah untuk beraktivitas di dalamnya.

Sayangnya, realitas di lapangan saat ini menunjukkan bahwa upaya pembentukan “Sense of Place” di kawasan TOD Jakarta masih menghadapi sejumlah tantangan yang sangat esensial. Kondisi ini tergambar dengan sangat tajam dalam sebuah dokumen kajian Joko Adianto seorang peneliti Perancangan Kota pada 2023 yang meneliti pola perilaku dari delapan ratus empat puluh satu responden yang bermukim atau berkegiatan di kawasan TOD Jakarta. Berdasarkan penelitiannya, terdapat sebuah fakta krusial bahwa sebagian besar masyarakat yang berkegiatan di kawasan TOD masih banyak yang enggan menggunakan transportasi umum dan memilih kendaraan pribadi karena berbagai kendala yang dialami. Alasan utama yang melatarbelakangi keengganan warga ini ternyata sangat berkaitan erat dengan elemen utama pembentuk “Sense of Place”, yakni memudarnya kualitas fisik lanskap dan hilangnya kenyamanan beraktivitas. Berdasarkan data dari kajian tersebut, masyarakat luas yang menjadi responden mengeluhkan bahwa kawasan transit saat ini terasa sangat tidak nyaman, memiliki akses pejalan kaki yang tergolong buruk, serta mengandalkan jalur pergerakan yang tidak terintegrasi secara mulus.

Keluhan-keluhan riil dari masyarakat tersebut menjadi bukti nyata bahwa hilangnya kualitas kenyamanan fisik akan berdampak langsung pada pudarnya “Sense of Place” di ruang perkotaan. Ketika para pejalan kaki setiap hari harus berjuang keras melewati trotoar yang sempit, berlubang, atau bahkan terokupasi oleh kendaraan yang parkir secara sembarangan, ruang pejalan kaki tersebut otomatis kehilangan fungsi sosialnya. Ruang publik komunal yang seharusnya menjadi tempat interaksi yang menjamin keamanan serta rasa santai kini berubah wujud menjadi lingkungan keras yang memicu keengganan. Padahal, kita memahami bahwa salah satu pilar utama dalam menghadirkan “Sense of Place” adalah terciptanya pengalaman sensoris dan emosional yang mengarah pada sentimen positif. Sejalan dengan hal itu banyak penelitian dengan sangat jelas menyimpulkan serta memberikan rekomendasi bahwa pengembangan kawasan TOD di Jakarta mutlak perlu dibuat nyaman. Peningkatan kenyamanan ini ditempatkan sebagai prioritas intervensi tertinggi yang tidak bisa ditawar lagi agar mampu menarik simpati dan minat masyarakat untuk beralih menggunakan layanan transportasi umum secara konsisten.

Pancoran Tea House Yang Menjadi Lokasi Stasiun MRT Glodok

Lalu, langkah konkret seperti apa yang bisa diambil untuk menumbuhkan kembali “Sense of Place” yang kuat dan mengakar di berbagai kawasan TOD Jakarta? Jawabannya bermuara pada penerapan desain perancangan lanskap perkotaan yang memprioritaskan kemanusiaan. Desain kawasan TOD harus selalu mengutamakan kemudahan navigasi dan kenyamanan pejalan kaki sebagai fondasi dari elemen pembentuk fisiknya. Gagasan ini dapat diwujudkan dengan memastikan ketersediaan jalur pedestrian yang cukup lapang, terlindungi dari terik matahari dan curah hujan, serta dilengkapi dengan barisan pepohonan peneduh maupun perabot jalan fungsional seperti kursi taman. Ketika infrastruktur fisik skala manusia ini tertata dengan apik, alur aktivitas sosial warga akan mengalir dengan sendirinya tanpa perlu dipaksakan. Orang-orang di kawasan TOD tidak akan lagi merasa terburu-buru atau tertekan dengan lingkungan sekitarnya, melainkan bisa berjalan santai sembari menikmati perjalanan dinamis dari stasiun menuju ke tempat kerja. Pada momentum inilah, simpul transportasi berhasil mengubah fungsinya, berevolusi dari sekadar tempat numpang lewat menjadi ruang interaksi antarwarga yang hangat dan hidup.

Di samping pemenuhan aspek kenyamanan fisik yang mendasar, esensi “Sense of Place” dalam pengembangan kawasan TOD juga dapat ditebalkan dengan cara menyuntikkan kearifan budaya lokal maupun nilai sejarah ke dalam detail arsitekturnya. Setiap simpul pergerakan stasiun atau area transit di kota Jakarta sejatinya memiliki rekam jejak cerita dan latar belakang kulturalnya masing-masing yang sangat unik. Langkah untuk mengintegrasikan sentuhan elemen seni publik, menonjolkan corak budaya lokal, atau bahkan melestarikan bangunan-bangunan bernilai sejarah di sekitar radius kawasan TOD dapat memberikan karakteristik identitas yang kuat. Hal tersebut tidak hanya mencegah penyeragaman visual kawasan yang seringkali terasa membosankan, namun juga secara bertahap menumbuhkan perasaan bangga bagi masyarakat yang sehari-hari memanfaatkannya. Integrasi strategis antara jalur pejalan kaki yang menenangkan hati, dipadukan dengan bahasa desain yang menghargai memori lokal, akan bermuara pada lahirnya harmoni visual dan ikatan batin yang begitu kuat dengan kotanya.

Sebagai kesimpulan, proyek pengembangan kawasan TOD di tengah gemerlapnya Jakarta tidak boleh selamanya dipandang hanya dengan kacamata mekanis sebagai proyek penciptaan sarana perpindahan moda transportasi semata. Membangun sebuah kawasan TOD sejatinya merupakan sebuah tahapan penting dalam upaya membangun peradaban dan mengembalikan ruang kehidupan sosial bagi warganya. Dengan menyelaraskan rekomendasi strategis dengan prinsip-prinsip perancangan ruang berskala manusia, kita semakin menyadari perlunya menempatkan kenyamanan, integrasi mobilitas fisik, dan keunikan identitas sebagai prioritas tertinggi. Ketika berbagai aspek fundamental ini dipadukan dengan perencanaan yang cermat, jiwa dari ruang tersebut atau “Sense of Place” akan bersemi dan tumbuh subur di tengah padatnya laju ibukota. Pada akhirnya, kawasan TOD yang berhasil menemukan jiwanya tidak hanya akan mencetak keberhasilan luar biasa dalam memindahkan rutinitas harian jutaan orang ke moda transportasi massal, namun juga sukses menjadi ruang bermakna yang merayakan ritme kehidupan Jakarta secara inklusif, berkelanjutan, dan memanusiakan manusia.

 

Penulis : Ir. Atma Winata Nawawi, ST., M.Ars., IALI.

Anggota IALI Jakarta

Aktif dalam kajian mengenai Perancangan Kota berbasis pengembangan Transportasi